31 March 2013

Gelas Kopi ke-124

Posted By: Utroq Trieha - 03:28
Hingga akhirnya kami putus dengan pacar masing-masing. Tuhan seperti sengaja melakukannya. Bila tidak, bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi secara bersamaan?

Orang tua kami yang melihat celah kesempatan tersebut kembali bersemangat. Keinginan mereka untuk menjodohkan kami bagaimana caranya, bisa terwujud. “Percaya kami,” kata orang tuaku padaku, juga kata orang tuanya pada suamiku. “Kami telah mengenal keluarga masing-masing. Kami mengikuti perkembangan dan sudah mengenal sifat kalian. Kalian cocok. Percayalah, bila menikah, kalian akan menjadi pasangan yang saling mencintai, bahagia, dan awet selamanya. Tidakkah kalian setuju, pasangan suami-istri zaman dulu yang menikah karena dijodohkan lebih langgeng ketimbang pasangan suami istri jaman sekarang. Cinta itu bisa dipelajari dan ditumbuhkan.”

Menurutku kalimat-kalimat itu membosankan.

Namun, akhirnya kami menikah. Tinggal di rumah baru. Hanya berdua saja. Dua orang yang tidak saling mencintai, yang akhirnya disatukan oleh ikatan pernikahan, tinggal bersama di satu rumah. 

 Selengkapnya sila baca blog.puspitadesi.com


➖➖➖
Author Desi Puspitasari | Karya: Cerita Pendek | Terbit: 9 Maret 2013 | Diterbitkan: Majalah Femina


 

DESI PUSPITASARI:

Adalah penulis kelahiran Madiun yang sejak menempuh pendidikan tinggi -di Bulak Sumur- hingga kini tinggal di Jogjakarta. Selain menulis cerpen, cerber dan novel, bersama tim @JaringProject ia juga menulis naskah pertunjukan-teater.

0 comments:

Ads

Copyright ©2010- | Templatezy | Karya Sastra | Desi Puspitasari